Hayu Explore Dieng Plateau!

Hayu Explore Dieng Plateau!

Apa yang ada di pikiranmu ketika mendengar nama Dieng, genk? Keindahan panorama alamnya yang tiada tara, kesakralan, adat istiadat dan budaya yang dijaga para penduduknya, atau matahari paginya yang memukai mata? Semuanya benar! Dataran tinggi yang menjadi objek wisata andalan dua Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara ini memang paket komplit untuk menghabiskan waktu liburan, genk.

Kalau kita telusuri, Dieng berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Kawi yaitu “Di” yang berarti “tempat” atau “gunung” dan “Hyang” yang berarti Dewa. Artinya, Dieng berarti daerah pegunungan tempat bersemayamnya para dewa dan dewi, genk. Tapi ada teori lain yang mengatakan jika nama Dieng berasal dari Bahasa Sunda yang berarti “Hyang”, karena diprakirakan sekitar abad ke-7 Masehi atau pada masa pra-Medang, daerah ini baheula-nya berada dalam pengaruh politik Kerajaan Galuh.

Karena itu, tidak mengherankan bila di sekitar dataran 2000 meter di atas permukaan laut ini, banyak terdapat peninggalan masa lalu berupa candi yang masih terjaga dengan baik, genk. Sebut saja komplek candi Hindu yang terletak di Kecamatan Batur. Di komplek ini ada 5 bangunan candi yang menghadap ke Barat yaitu Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembrada. Di sebelah Barat menghadap ke Timur ada Candi Semar yang berhadapan dengan Candi Arjuna. Di Kecamatan Kejajar juga ada candi Bima dan Watu Kelir.

Selain candi, Dieng juga terkenal dengan keindahan alamnya seperti area kawah yang bisa kita kunjungi yaitu Kawah Sikidang, Sileri, Candradimuka, dan Sikendang. Kawah vulkanik dengan lubang kepunden ini selalu mengepulkan asap berwarna kelabu. Ada juga Sumur Jalatunda yang tidak lain adalah sisa letusan kepunden gunung berapi yang menjadi sumur dengan kedalaman kurang lebih 100 meter. Kepercayaan masyarakat di sana, sumur Jalatunda ini adalah pintu gaib menuju kerajaan penguasa Laut Selatan, genk. Bahkan ada kepercayaan masyarakat, bila kita melempar batu hingga melintasi sumur itu, maka cita-cita kita akan tercapai. Bagian ini sih siloka dari kerasnya usaha kita, genk.

Di Dieng pun ada beberapa telaga dengan keunikan masing-masing. Salah satu telaga yang sudah terkenal sejak zaman Belanda adalah Telaga Warna. Telaga dengan air yang bisa berubah-ubah mulai dari warna hijau, biru, kuning dan lainnya ini menjadi tempat yang wajib dikunjungi karena keunikannya. Telaga Warna ini berada di tepi jalan besar menuju Desa Wisata Sembungan yang tak lain adalah desa tertinggi di Pulau Jawa. Tentu saja dari tepi jalan tidak terlihat karena terhalang tanaman bambu glagah dan pohon Akasia. Di sebelah Telaga Warna ada juga Telaga Pengilon. Pengilon sendiri berarti cermin dalam bahasa Jawa karena airnya yang jernih dan dapat digunakan sebagai cermin. Sementara telaga lainnya yaitu Telaga Cebong, Telaga Dringo, dan Telaga Menjer.

Kalau kamu penasaran mengenai seluk beluk Dieng, semua informasinya bisa kita dapatkan di Dieng Plateau Theatre, genk. Di sini kamu bisa menontonnya dalam bentuk audio visual sehingga akan memudahkan kita untuk mengexplore Dieng. Di dekat bangunan di puncak bukit ini juga ada Batu Ratapan Angin. Dari dua batu yang berdampingan ini kita juga bisa melihat Telaga Warna dengan background suguhan pemandangan yang indah.

Dan belum ke Dieng rasanya, bila kita tidak bisa menikmati keindahan mentari pagi di Bukit Sikunir, genk. Tempat terbaik untuk para penikmat keindahan Golden Sunrise alias mentari pagi ini benar-benar bisa membuat kita betah. Lokasi dengan keajaiban terbaik untuk para pemuja mentari pagi ini benar-benar akan membuat kita merasa ogah pulang maunya di Dieng aja.

Check harga Trip-nya