Ada Sorga di Waerebo

Ada Sorga di Waerebo

Jika kita berbicara mengenai desa terindah di Indonesia, Desa Wae Rebo inilah jawabannya. Desa yang beberapa orang katakan sebagai desa misterius ini, sudah ditetapkan UNESCO sebagai situs warisan budaya pada tahun 2012 lalu, genk. Tidak terlalu misterius sih, sebenarnya. Hanya memang, desa yang berada di barat daya kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur ini menclok sendiri di atas ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

Untuk mencapai lokasi ini penuh perjuangan banget, genk! Letaknya yang berada di atas gunung membuat kita harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk berjalan kaki sejauh 7 kilometer dengan medan pendakian yang bisa membuat napas kita kembang kempis. Lamanya di perjalanan ini kurang lebih selama 3-4 jam, tergantung kondisi fisik kita. Tapi..., kelelahan di perjalanan itu langsung dibayar lunas, genk!

Bagaimana tidak? Sorga di depan mata! Pemandangan alam berupa perbukitan berpadu dengan 7 rumah adat berbentuk kerucut itu, udaranya yang sejuk, membuat kita benar-benar merasa sedang berada di sorga. Tapi, jangan langsung selfie dan upload ke media sosial, ya. Di sini tidak ada signal hp.

Selain pemandangan alamnya, warga Desa Wae Rebo juga sangat ramah, lho. Mereka menempati 7 rumah adat yang disebut mbaru niang dan sudah bertahan selama 19 generasi. Rumah adat berbentuk kerucut itu terbuat dari kayu dengan atap daun lontar yang ditutup ijuk dan memiliki 5 lantai dengan tinggi sekitar 5 meter. Tingkat pertama, untuk tempat tinggal dan berkumpul keluarga, tingkat kedua bahan makanan, tingkat ketiga digunakan sebagai tempat menyimpan benih pangan, tingkat keempat menyimpan stok pangan untuk cadangan ketika kekeringan melanda, dan tingkat kelima adalah tempat persembahan leluhur. Ke-7 mbaru niang itu menempati lahan berumput hijau yang luas dengan latar bukit-bukit yang indah dan dihuni oleh 6 hingga 8 keluarga.

Dan tahukah kamu, bila masyarakat Wae Rebo adalah keturunan orang-orang dari Tanah Minang? Yup, nenek moyang masyarakat Wae Rebo ini bernama Empo Maro. Ia berasal dari Minangkabau, Sumatera. Alkisah dahulu ia dan keluarganya berlayar dari Sumatera ke Labuan Bajo. Setelah berpindah-pindah, mulai dari Waraloka, Mangapa’ang, Todo, Papo, Liho, Mofo, Golo Pondo, Ndara, Golo Damu, akhirnya ia menetap di Wae Rebo hingga keturunannya saat ini.

Hal lainnya yang menjadi daya tarik desa ini adalah kehidupan masyarakatnya. Siapapun tahu, saat ini Wae Rebo sedang naik daun di kalangan wisatawan. Setiap minggunya, banyak sekali wisatawan yang datang. Tapi, masyarakat di desa ini tidak lantas menjadi guide, genk. Mereka masih tetap menjalani kehidupan seperti biasanya yaitu bertani untuk para lelakinya dan menenun untuk para perempuannya.

Selain itu, masyarakat Wae Rebo juga memiliki hari spesial di setiap tahunnya, genk. Ada upacara Adat Penti yang dilaksanakan di bulan November. Upacara adat ini adalah ungkapan rasa syukur atas panen setahun lalu dan permohonan pelindungan keharmonisan untuk kehidupan di hari mendatang. Pada upacara Adat Peni ini, seluruh masyarakat Wae Rebo akan berpakaian adat lengkap sesuai kebiasaan turun temurun dari para leluhurnya. Mereka akan melakukan ritual yang sayang sekali jika kita melewatkannya.

Sementara di bulan Agustus, tepatnya pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, masyarakat Wae Rebo juga melakukan upacara bendera, genk. Uniknya, mereka tidak memasang bendera di tiang seperti di tempat lain. Tapi di atas atap rumah adat mbaru niang yang mengerucut itu sehingga perlu beberapa orang untuk memasangnya.

Dan buat kamu penikmat kopi, sorga lainnya sudah menanti. Ada kebun kopi, ada biji kopi yang dikeringkan dan diproses dengan cara tradisional dan bisa kamu nikmati sembari menikmati sore atau pagi di Wae Rebo. Bagaimana? Tertarik berkunjung ke Wae Rebo? Yuk jalan bareng explorepulau.id!

Check harga Trip-nya